PKS Kritisi PKB yang Pasang Gibran di Pilgub DKI

oleh -100 views
Ahmad Fathul Bahri
Ahmad Fathul Bahri Wasekjen PKS.pks.id

POLITIK.PERDANANEWS.COM – JAKARTA – PKS Kritisi PKB yang Pasang Gibran di Pilgub DKI. Meskipun pilgub DKI masih setahun lebih, namun hari ini seolah pembahasan pilkada pusat ibu kota ini makin hangat dibicarakan.

Bahkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan jika partainya bakal mendukung Gibran Rakabuming untuk maju di Pilgub DKI Jakarta.

Sebagaimana diketahui halayak bahwa Muhaimin Iskandar berkunjung ke Solo. Pria yang akrab disapa Cak Imin itu menyambangi Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka di rumah dinas Loji Gandrung, Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Penumping.

Dalam pengakuannya di depan awak media Cak Imin mengaku memberikan dukungan kepada Gibran agar sukses dalam memimpin Kota Solo.

“Kedua saya ingin mas Gibran menjadi wali kota yang teladan bagi seluruh wali kota/pimpinan daerah yang ada di tanah air,” katanya, Rabu (24/3/21).

Cak Imin menilai Gibran sebagai sosok pemimpin masa depan. Untuk itu dirinya siap mendukung Gibran untuk maju ke Pilgub DKI Jakarta nantinya.

“Mas Gibran ini pemimpin masa depan yang sukses di Solo dan akan membawa kemajuan di mana-mana. Siap pasti siap (mendukung),” tutupnya

Semntara itu Wasekjen PKS, Ahmad Fathul Bahri menyebut, kualitas pemimpin harus teruji dengan baik. Kata dan perbuatan yang dijanjikan ke masyarakat juga harus selaras. Seolah menyindir wali kota solo dan PKB, Ahmad menginginkan seorang pemimpin harus teruji kinerjanya, konsistensi antara kata dan perbuatan, serta komitmen yang kuat untuk mengabdi, bukan sekadar mengejar posisi.

“Kualitas kepemimpinan harus diuji dengan kinerja yang baik, kapasitas dalam mengemban tugas, konsistensi kata dan perbuatan terhadap apa yang sudah dijanjikan kepada masyarakat, serta komitmen yang kuat untuk mengabdi, bukan sekadar mengejar posisi,” kata Ahmd, Sabtu (27/3/21).

Fathul mengkritisi jangan sampai semua kontestasi politik hanya didasarkan atas sekadar popularitas semata. Apalagi cuma dikemas dengan pencitraan.

“Mudah-mudahan kita tidak mudah lupa untuk mengevaluasi pemimpin yang mudah menyampaikan janji tapi tidak dipenuhi,” tutur Ahmad, seolah menyindir penguasa negeri saat ini.

Menurut Ahmad, politisi terlalu mudah menyampaikan perkataan yang berbeda dengan tindakannya. Menganggap remeh penyelesaian masalah, dan akhirnya masalah diselesaikan dengan menimbulkan masalah baru.

“Terlalu menganggap remeh penyelesaian masalah namun kemudian menyelesaikannya dengan menghadirkan masalah baru, serta terlalu mudah menyatakan sesuatu yang ternyata berbeda dengan apa yang dilakukannya,” pungkas Ahmad. (sbr/pn)